-->

Latest Post

Anggota Komisi IX DPR, Saleh Partaonan Daulay mengutuk keras tindakan perbudakan yang dialami anak buah kapal (ABK) asal Indonesia di Kapal China. Foto/dpr.go.id

JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR, Saleh Partaonan Daulay mengutuk keras tindakan perbudakan yang dialami anak buah kapal (ABK) asal Indonesia di Kapal China. Menurut Saleh, perbudakan itu adalah tindakan yang sangat di luar batas perikemanusiaan.

"Tindakan itu bertentangan dengan International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR)/Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik)," ujar Saleh dalam keterangan tertulisnya kepada SINDOnews, Sabtu (9/5/2020).

Dia melanjutkan di dalam Pasal 7 dan Pasal 8 ICCPR dijelaskan secara tegas bahwa tidak ada seorang pun yang boleh mengalami penyiksaan, perlakuan keji, tidak manusiawi, dan merendahkan martabat. Selain itu, kata dia, tidak boleh ada seorang pun yang diperbudak dalam segala bentuknya dan melakukan kerja paksa.

Salah mengatakan ICCPR ini adalah panduan dasar masyarakat dunia dalam memajukan penghormatan universal dan pentaatan atas hak asasi dan kebebasan manusia. Kovenan ini telah ditandatangani oleh 74 negara.

“Tindakan keji yang dilakukan tentu telah merusak prinsip dasar penegakan HAM. Tindakan tersebut tidak boleh dibiarkan. Sudah sepatutnya, para pelaku dituntut di Mahkamah HAM internasional,” kata Wakil Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

Dalam konteks ini, Indonesia diminta untuk melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan dalam mengusut tuntas kasus tersebut. Mantan ketua umum PP Pemuda Muhammadiyah ini menilai kewajiban negara untuk melindungi seluruh rakyat Indonesia.

Termasuk puluhan ribu orang WNI yang saat ini bekerja sebagai ABK di banyak negara. “Di Indonesia, kita selalu memperlakulan orang asing dengan baik. Kita menghormati mereka. Tidak pernah mengganggu mereka. Mestinya, WNI yang bekerja di luar negeri pun harus diberi penghormatan,” terang Wakil Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI ini.

Baca Juga : Kasus-Perbudakan-ABK-Indonesia-di-Kapal.China Bakal Diusut

“Sungguh sangat tidak adil. TKA China kita perlakukan dengan baik. Mengapa WNI kita tidak dilindungi ketika bekerja di sana? Jangan sampai, bangsa kita selalu inferior jika berhadapan dengan negara lain,” tambah legislator asal Dapil Sumatera Utara II ini.

Dia membeberkan dalam rapat pada Kamis (7/5/2020) yang lalu, Komisi IX telah meminta agar Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) melakukan investigasi terhadap hal tersebut. Diakuinya bahwa, BP2MI tentu tidak bisa sendiri. Karena itu, Kementerian Luar Negeri juga diminta untuk ikut terlibat aktif. Semua upaya harus dilakukan dalam membela dan melindungi WNI yang bekerja di luar negeri. (*)


Sumber :  sindonews.com

Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah ialah pemimpin yang adil. Ilustrasi/SINDOnews

Al-Qur’an menjelaskan, sebagaimana yang dijelaskan oleh sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam (SAW), bahwa sesungguhnya perbuatan manusia di sisi Allah itu memiliki berbagai tingkatan. Ada perbuatan yang paling mulia dan paling dicintai oleh Allah SWT daripada perbuatan yang lainnya. Allah SWT berfirman:

أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ ٱلْحَآجِّ وَعِمَارَةَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ كَمَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَجَٰهَدَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ لَا يَسْتَوُۥنَ عِندَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَهَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ

Artinya: “Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajadnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS At-Taubah: 19-20)

Dalam sebuah hadis sahih disebutkan, “Sesungguhnya iman itu ada enam puluh lebih cabang –atau tujuh puluh lebih—yang paling tinggi di antaranya ialah la ilaha illa Allah, dan yang paling rendah ialah menyingkirkan penghalang yang ada di jalan.”

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Jama’ah dari Abu Hurairah; al-Bukhari meriwayatkannya dengan lafal “enam puluh macam lebih”; Muslim meriwayatkannya dengan lafal “tujuh puluh macam lebih” dan juga dengan lafal “enam puluh macam lebih”; Tirmidzi meriwayatkannya dengan “tujuh puluh macam lebih” dan begitu pula dengan an-Nasa’i. (Baca juga: 17 Amalan Ringan yang Memiliki Pahala Besar (1)

Hal ini menunjukkan bahwa jenjang iman itu bermacam-macam nilai dan tingkatannya. Penjenjangan ini didasarkan atas nilai-nilai dan dasar-dasar yang dipatuhi.

Di antara ukurannya ialah bahwa jenis pekerjaan ini harus pekerjaan yang paling langgeng (kontinyu). Pelakunya terus-menerus melakukannya dengan penuh disiplin. Sehingga perbuatan seperti ini sama sekali berbeda tingkat dengan perbuatan yang dilakukan sekali-sekali dalam suatu waktu tertentu.

Sehubungan dengan hal ini dikatakan dalam sebuah hadis sahih: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling kontinyu walaupun sedikit.” (Muttafaq ‘Alaih, dari ‘Aisyah (Shahih al-Jami’ as-Shaghir, 163)

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dan Masruq berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah r.a., Amalan apakah yang paling dicintai oleh Nabi saw?, Aisyah menjawab: “Amalan yang kontinyu.” (Muttafaq ‘Alaih, ibid., dalam al-Lu’lu’ wa al-Marjan (429)

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. bahwa sesungguhnya Nabi saw masuk ke rumahnya, pada saat itu ‘Aisyah sedang bersama dengan seorang perempuan.

Nabi saw bertanya, “Siapakah wanita ini?”

Aisyah menjawab, “Fulanah yang sangat terkenal dengan salatnya (yakni sesungguhnya dia banyak sekali melakukan salat).”

Nabi saw bersabda, “Aduh, lakukanlah apa yang kamu mampu melakukannya. Demi Allah, Allah SWT tidak bosan sehingga kamu sendiri yang bosan.”

Aisyah berkata, “Amalan agama yang paling dicintai olehnya ialah yang senantiasa dilakukan oleh pelakunya.” (Muttafaq ‘Alaih, ibid., (449)

Syaikh Yusuf al-Qardhawi, cendekiawan muslim dari Mesir, menjelaskan perkataan “aduh” dalam hadis tersebut menunjukkan keberatan beliau SAW atas beban berat dalam beribadah, dan membebani diri di luar batas kemampuannya.

"Yang beliau inginkan ialah amalan yang sedikit tapi terus-menerus dilakukan. Melakukan ketaatan secara terus-menerus sehingga banyak berkah yang diperoleh akan berbeda dengan amalan yang banyak tetapi memberatkan. Dan boleh jadi, amalan yang sedikit tapi langgeng akan tumbuh sehingga mengalahkan amalan yang banyak yang dilakukan dalam satu waktu," tutur Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam "Fiqh Prioritas, Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah" (1996).

Terdapat satu peribahasa yang sangat terkenal di kalangan masyarakat, “Sesungguhnya sesuatu yang sedikit tapi terus berlangsung adalah lebih baik daripada amalan yang banyak tetapi terputus.”

Itulah yang membuat Nabi SAW memperingatkan orang-orang yang terlalu berlebihan dalam menjalankan agamanya dan sangat kaku; karena sesungguhnya Nabi khawatir bahwa orang itu akan bosan dan kekuatannya menjadi lemah, sebab pada umumnya begitulah kelemahan yang terdapat pada diri manusia. Dia akan putus di tengah jalan. Ia menjadi orang yang tidak jalan dan juga tidak berhenti.

Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah kamu melakukan amalan yang mampu kamu lakukan, karena sesungguhnya Allah SWT tidak bosan sehingga kamu menjadi bosan sendiri.” (Muttafaq ‘Alaih, yang juga diriwayatkan dari ‘Aisyah: Sahih al-Jami’ as-Shaghir (4085).

Beliau SAW juga bersabda, “Ikutilah petunjuk yang sederhana (tengah-tengah) karena orang yang kaku dan keras menjalankan agama ini akan dikalahkan olehnya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Hakim, dan Baihaqi dari Buraidah, ibid., (4086).

Sebab wurud hadis ini adalah seperti apa yang diriwayatkan oleh Buraidah yang berkata, pada suatu hari aku keluar untuk suatu keperluan, dan kebetulan pada saat itu aku berjalan bersama-sama dengan Nabi saw . Dia menggandeng tangan saya, kemudian kami bersama-sama pergi. Kemudian di depan kami ada seorang lelaki yang memperpanjang ruku’ dan sujudnya.

Maka Nabi saw bersabda, "Apakah kamu melihat bahwa orang itu melakukan riya?"

Abu berkata, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu".

Kemudian beliau melepaskan tanganku, dan membetulkan kedua tangan orang itu dan mengangkatnya sambil bersabda, "Ikutilah petunjuk yang pertengahan…" (Disebutkan oleh al-Haitsami dalam al-Majma’, 1: 62 kemudian dia berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad dan orang-orang yang tsiqah.”)

Diriwayatkan dari Sahl bin Hunaif bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kamu memperketat diri sendiri, karena orang-orang sebelum kamu binasa karena mereka memperketat dan memberatkan diri mereka sendiri. Dan kamu masih dapat menemukan sisa-sisa mereka dalam biara-biara mereka.” (8 al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Awsath dan al-Kabir, di dalamnya ada Abdullah bin Shalih, juru tulis al-Laits, yang dianggap tsiqat oleh Jama’ah dan dilemahkan oleh yang lainnya. (Al-Majma’, 1:62).

Amalan Yang Luas Manfaatnya
Kembali ke QS At-Taubah: 19-20. Syaikh Yusuf Qardhawi juga menjelaskan berjuang di jalan Allah yang manfaatnya lebih dirasakan oleh umat adalah lebih afdal di sisi Allah dan lebih besar pahalanya daripada ibadah yang kita lakukan berkali-kali, tetapi kemanfaatannya hanya untuk kita sendiri.

Abu Hurairah r.a. berkata, ada salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang berjalan di suatu tempat yang memilih sumber mata air kecil, yang airnya tawar, dan dia merasa kagum kepadanya kemudian berkata, "Amboi, seandainya aku dapat mengucilkan diri dari manusia kemudian tinggal di tempat ini! (untuk beribadah). Namun, aku tidak akan melakukannya sebelum aku meminta izin terlebih dahulu kepada Rasulullah saw."

Maka Nabi saw bersabda, "Jangan lakukan, karena sesungguhnya keterlibatanmu dalam perjuangan di jalan Allah adalah lebih utama daripada salat selama tujuh puluh tahun. Tidakkah kamu senang apabila Allah SWT mengampuni dosamu, dan memasukkan kamu ke surga. Berjuanglah di jalan Allah. Barangsiapa yang menyingsingkan lengan baju untuk berjuang di jalan Allah, maka wajib baginya surga.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dianggap sebagai hadis hasan olehnya (1650), beserta Hakim yang menganggapnya sebagai hadits sahih berdasarkan syarat Muslim, dan juga disepakati oleh adz-Dzahabi, 2:68)

Atas dasar itulah, menurut Syaikh Qardhawi, dalam beberapa hadis, ilmu pengetahuan dianggap lebih utama daripada ibadah, karena manfaat ibadah hanya kembali kepada pelakunya sedangkan manfaat ilmu pengetahuan adalah untuk manusia yang lebih luas.

Di antara hadis itu adalah: “Keutamaan ilmu pengelahuan itu ialah lebih aku cintai daripada keutamaan ibadah, dan agamamu yang paling baik adalah sifat wara’.“ (Diriwayatkan oleh al-Bazzar, Thabrani di dalam al-Awsath, dan al-Hakim dari Hudzaifah, dan dari Sa'ad, yang disahihkan olehnya dengan syarat yang ditetapkan oleh Bukhari dan Muslim; serta disepakati oleh adz-Dzahabi, 1:92. Serta disebutkan di dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir (4214)).

Kelebihan orang yang berilmu atas orang yang beribadah ialah bagaikan kelebihan bulan purnama atas seluruh bintang gemintang.”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilyah dari Mu'adz (Shahih al-Jami' as-shaghir, (4212); yang juga merupakan sebagian dari hadis Abu Darda, mengenai keutamaan ilmu pengetahuan, yang diriwayatkan oleh Ahmad dan para penyusun kitab Sunan, serta Ibn Hibban dari sumber yang sama (6297).

Selanjutnya, “Kelebihan orang yang berilmu atas orang yang beribadah ialah bagaikan kelebihan diriku atas orang yang paling rendah di antara kamu.”

Hadis tersebut merupakan bagian dari hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Umamah, Turmudzi berkata "Ini adalah hadis hasan sahih gharib" (2686) yang juga terdapat dalam Sahih al-Jami' as-shaghir (4213)

Kelebihan ilmu pengetahuan itu akan bertambah lagi apabila orang yang berilmu itu mau mengajarkannya kepada orang lain. Sebagai pelengkap hadis tersebut, Syaikh Qardawi juga menyebutkanhadis yang merupakan bagian dari hadis Abu Umamah.

Sesungguhnya Allah SWT dan para malaikat-Nya, serta penghuni langit dan bumi, hingga semut yang ada pada lubangnya, dan ikan hiu yang ada di lautan akan membacakan salawat atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”

Dalam sahih disebutkan, “Orang yang paling baik di antara kamu ialah orang yang belajar al-Qur’an dan mau mengajarkannya.” (HR Bukhari dari Usman)

Atas dasar itu, para fuqaha mengambil keputusan: “Sesungguhnya orang yang hanya menyibukkan diri untuk beribadah saja tidak dibenarkan mengambil zakat, berbeda dengan orang yang menyibukkan diri untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Karena sesungguhnya tidak ada konsep kerahiban di dalam Islam, dan orang yang menyibukkan dirinya dalam ibadah hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Sedangkan orang yang menyibukkan diri dalam mencari ilmu pengetahuan adalah untuk kemaslahatan umat.”

Sementara orang yang ilmu pengetahuan dan dakwahnya dimanfaatkan, ia akan mendapatkan pahala dan balasan di sisi Allah SWT atas kemanfaatan ilmunya tersebut.

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mengajar orang lain kepada suatu petunjuk, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melaksanakan petunjuk itu, tanpa mengurangi pahala mereka sama sekali.”

Begitu pula pekerjaan yang paling utama adalah pekerjaan yang paling bermanfaat untuk orang lain.

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Orang yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah orang yang paling berguna di antara mereka. Dan perbuatan yang paling dicintai oleh Allah ialah kegembiraan yang dimasukkan ke dalam diri orang Muslim, atau menyingkirkan kegelisahan dari diri mereka, atau membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Dan sungguh akuberjalan bersama saudaraku sesama muslim untuk suatu keperluan (da’wah), adalah lebih aku cintai daripada beriktikaf di masjid selama satu bulan.”

Hadis tesebut diriwayatkan oleh Ibn Abu al-Dunya dalam Qadha' al-Hawa'ij, dan juga diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibn Umar, dan dianggap sebagai hadits hasan olehnya. (Shahih al-Jami' as-Shagir, 176)

Begitulah pekerjaan yang berkaitan dengan perbaikan dan kepentingan masyarakat adalah lebih utama daripada pekerjaan yang dimanfaatkan oleh diri sendiri. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda,

Tidakkah pernah kuberitahukan kepada kamu sesuatu yang derajatnya lebih tinggi daripada salat, puasa dan sadakah? Yakni, memperbaiki silaturahmi dengan sanak kerabat kita. Karena rusaknya sanak kerabat kita adalah sama dengan pencukur.” (HR Ahmad Abu Dawud Tirmidzi, dan Ibn Hibban). Diriwayatkan, “Aku tidak mengatakan, mencukur rambut, tetapi mencukur agama.” (Baca Juga: 7 Golongan yang Dinaungi Allah pada Hari Kiamat)

Doa untuk Pemimpin
Menurut Syaikh Qardawi, atas dasar itulah, pekerjaan yang dilakukan oleh seorang pemimpin yang adil lebih utama daripada ibadah orang lain selama sepuluh tahun; karena dalam satu hari kadangkala pemimpin itu mengeluarkan berbagai keputusan yang menyelamatkan beribu-ribu bahkan berjuta orang yang dizalimi, mengembalikan hak yang hilang kepada pemiliknya, mengembalikan senyuman ke bibir orang yang tidak mampu tersenyum.

Selain itu, dia juga mengeluarkan keputusan yang dapat memotong jalan orang-orang yang berbuat jahat, dan mengembalikan mereka kepada asalnya, atau membuka pintu petunjuk dan tobat.

Selain itu, pemimpin yang adil juga memberi kesempatan untuk membukakan berbagai pintu bagi orang-orang yang menjauhkan diri dari Allah, memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat dari jalannya, dan membantu orang yang menyimpang dari jalan yang benar. (Baca Juga: Inilah Orang-orang yang Bangkrut di Hari Kiamat)

Pemimpin yang adil juga kadang-kadang mendirikan proyek-proyek pembangunan dan berguna sehingga tindakan ini dapat menciptakan lapangan kerja bagi para penganggur, mendatangkan roti bagi orang yang lapar, obat bagi orang yang sakit, rumah bagi orang gelandangan, dan pertolongan bagi orang yang sangat memerlukannya.

Itulah antara lain yang membuat para ulama salaf mengatakan, “Kalau kami mempunyai do’a yang lekas dikabulkan maka kami akan mendo’akan penguasa. Karena sesungguhnya Allah dapat melakukan perbaikan terhadap banyak makhluknya dengan kebaikan penguasa tersebut.”

Thabrani meriwayatkan sebuah hadis dari Ibn ‘Abbas bahwasanya saw bersabda, “Satu hari dari imam yang adil adalah lebih afdal daripada ibadah enam puluh tahun.” (Al-Mundziri mengatakan dalam at-Targhib, diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Kabir dan at-Awsath, dan isnad al-Kabir dianggap hasan).

Akan tetapi al-Haitsami menentangnya, walaupun hadits tersebut didukung oleh hadits Tirmidzi dari Abu Said,

Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah ialah pemimpin yang adil.” Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. (HR al-Ahkam (1329).

Hadis di atas juga dikuatkan oleh riwayat Abu Hurairah r.a. dari Ahmad dan Ibn Majah yang dianggap sebagai hadis hasan oleh Tirmidzi, dan dishahih-kan oleh Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban,

Juga kelompok yang do’a mereka tidak ditolak ialah: orang yang berpuasa sehingga dia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang teraniaya.” (Hadis ini dianggap sebagai hadits hasan oleh al-Hafizh Ibn Hajar, dihahihkan oleh Syaikh Syakir dalam Takhrij Sanad dengan no. 8030, yang diperkuat oleh tiga hadits lainnya, dengan ketiga sanad-nya yang berbeda). (Baca juga: 3 Kelompok Manusia Ini Tidak Merasakan Ketakutan di Hari Kiamat).(*)



Sumber : sindonews.com

Photo Istimewa

MA, PADANG - Hampir dua bulan Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatra Barat melaksanakan Working From Home (WFH) atau bekerja dari rumah. Namun kegiatan layanan dan kinerja ASN tetap berjalan sebagai mana mestinya. Setiap hari ASN wajib melaporkan capaian kinerjanya kepada atasan langsung.

Mengingat Sumbar telah menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sejak April lalu, Kepala Kanwil Kemenag Sumbar, H. Hendri tak henti-henti mengingatkan jajarannya untuk mematuhi imbauan yang telah dikeluarkan pemerintah pusat dan daerah terutama PSBB.

“Jika tidak ada keperluan mendesak, jangan keluar rumah. Hindari kerumunan, patuhi pysical distancing (jaga jarak, ”tegas Kakanwil.

Hal ini disampaikan H. Hendri dalam rapat terbatas pembahasan revisi anggaran pencegahan covid-19, Selasa (5/5) di ruang kerjanya. Revisi anggaran ini merujuk kepada edaran yang dikeluarkan Kementerian Keuangan RI. Rapat dihadiri Kepala Bagian Tata Usaha, H. Irwan, kepala bidang, Pembimas dan Kasubbag dengan mematuhi protokol kesehatan.

Seiring dengan itu, Kepala Kanwil Kemenag Sumbar, H. Hendri ikut gencar melakukan sosialisasi ke masyarakat sebagai upaya pencegahan penyebaran covid -19. Sosialisasi ini disampaikan melalui Penyuluh, KUA dan penghulu. Hal ini sebagai bentuk kepedulian Kanwil dalam mencegah penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

“Kita juga intens melaksanakan sosialisasi SE Menag RI tentang panduan ramadan dari mesjid dan mushalla dialihkan ke rumah. Karena masih ada masyarakat yang bersikukuh untuk berjemaah di mesjid. Ini perlu diberi pengertian yang baik, jika sudah terdampak suliyt diobati. Bahayanya lebih besar dari sekdar hanya mengambil fadhilahya atau sekedar mengambil keutaamannya,” terang Kakanwil.

Namun ada tips dan rumus menarik yang disampaikan Kakanwil agar ASN atau masyarakat terhindar dari wabah corona. H. Hendri mengajak masyarakat untuk menjaga lima “i”, pertama jaga Iman.

"Tidak ada yang bisa menjauhkan dan melindungi kita selain Allah swt. Apa yang terjadi hari ini atas izin Allah. Tidak ada musibah yang terjadi kecuali atas izin Allah," tegas Kakanwil.

Kedua, jaga Ibadah. Bagaiamana masyarakat kita diajak untuk tetap beribadah di rumah saja yang nilainya tidak kalah dari beribadah di mesjid. Bagaimana masyarakat memperbanyak ibadah tarwih, tahajjud, dhuha dan tadarus. Jajaran Kanwil juga menargetkan khatam untuk tahun ini sebanyak 2.574 kali khatam selama bulan Ramadan 1441 H.

“Kita sudah melaksanakan program tadarus secara online. Sehingga dengan memperbanyak membaca Alquran bersama ini bagian juga dari menolak bala, menolak wabah yang sangat menerikan ini, ”ungkap Kakanwil.

Ketiga, lanjut H. Hendri jaga Infak.salahsatu perbuatan baik yang bisa menolak bala adalah sedekah. "Kita ajak masyarakat untuk memperbanyak sedekah sebagai bentuk peduli dengan masyarakat yang terkena dampak covid 19. Banyak yang tidak dapat pekerjan dan bahkan putus pekerjaan," imbau puyra Canduang ini.

Keempat jaga imun, jaga kesehatan. "Saya minta bapak ibu merevisi anggaran untuk pencegahan covid-19. Kita merujuk kepada edaran Kementerian Keuanhan. Sebagai upaya menjaga imun ASN dan memberikan alat kesehatan untuk rumah sakit berupa masker dan APD untuk tim medis," harap Kakanwil.

Kelima, jaga Interaksi atau jaga jarak. Kalaupun ada rapat kecil-kecilan jaga kerumunan dan jaga jarak. Hal ini bisa memutus dan mengenyahkan virus corona ini dari bumi adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Kakanwil berharap dengan diterapkannya Lima "i" ini masyarakat bisa terhindar dari serangan wabah covid -19 yang sudah meresahkan masyarakat Sumatra Barat maupun dunia. (Humas Kanwil Kemenag Sumbar)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.