-->

Latest Post


JAKARTA - MEDIAPORTALANDA - Dua wacana muncul sebagai solusi permasalahan bangsa yang terjadi saat ini, yaitu melalui Amandemen Konstitusi atau Revolusi.


Wacana itu mengemuka dalam Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan DPD RI bekerjasama dengan Gerakan Bela Negara, di Ruang Sriwijaya Gedung B, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (14/3/2022).


Dialog tersebut mengambil tema 'Mencari Solusi Permasalahan Negara dan Bangsa'. 


Dalam kegiatan ini, Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menyampaikan Keynote speech sekaligus membuka acara. Dia didampingi Senator Anggota DPD RI, Staf Khusus Ketua DPD RI Sefdin Syaifuddin, Togar M Nero dan Brigjen (Pol) Amostian, Sekjen DPD RI Rahman Hadi dan Deputi Administrasi DPD RI Lalu Niqman Zahir.


Sebagai narasumber dialog antara lain Ketua Dewan Syuro Partai Ummat, Amien Rais, Ketua Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju, Din Syamsuddin, Guru Besar Ilmu Hukum dan Masyarakat Universitas Diponegoro Profesor Suteki, Ketua Umum Gerakan Bela Negara Brigjen TNI (Purn) Hidayat Purnomo. Hadir pula para pegiat dan pemerhati konstitusi, Purnawirawan TNI dan lain-lain.


Mantan KASAD Agustadi Sasongko dalam kesempatan itu menjelaskan bahwa Amandemen Konstitusi 20 tahun lalu terjadi akibat perang asimetris. Yakni perang yang tidak kelihatan dengan merusak bidang ideologi, politik, sosial dan budaya lewat organisasi internasional dan tangan-tangan asing.


"Makanya kemudian bisa mengubah UUD Naskah asli kita hingga 4 kali yang kemudian membuat persoalan bagi bangsa saat ini. Solusinya tentu saja dengan mengembalikan ke UUD 45 asli. Wacananya bukan dengan revolusi tapi sesuai dengan hukum atau secara konstitusional," paparnya.


Selain itu, Agustadi juga berharap MPR harus diberdayakan. Posisinya dikembalikan sebagai komando.


"Sehingga harus diubah supaya tidak jadi sejajar lagi dengan DPR dan DPD," lanjutnya.


Sementara Mantan anggota DPR RI, Hatta Taliwang, menyatakan bahwa akar masalah bangsa karena hilangnya kekuasaan MPR. Inilah yang membuat pemerintah menjadi semena-mena. 


"Keputusan pemerintah yang semaunya itu tidak akan terjadi kalau masih ada MPR.karena semuanya harus diputuskan bersama. Harus mengajak bicara semua elemen, ada parpol, utusan golongan, utusan daerah dan lain-lain," tegasnya.


Karena itu dia berharap spirit bangsa ini sebagai bangsa yang bermusyawarah harus tetap dikedepankan dalam mengatur negara.


"Artinya kita harus kembalikan kepada Konstitusi asli. Ini hasil darah, keringat dan air mata yang kemudian dituangkan dalam setiap pasal dan ayat itu. Asal kita patuh pada ayat yang ada, Insya Allah bisa selamatkan bangsa ini," tutur dia.


Beda halnya dengan advokat senior Eggy Sudjana. Dengan lantang dia mengajak semua elemen untuk tidak buang-buang waktu dengan diskusi dan retorika. 


"Karena semua perubahan yang kita inginkan akan terjadi kalau rezim tumbang. Secara objektif semua sudah melihat bahwa the root of problem adalah Jokowi. Makanya kita berangkat dari situ," katanya.


Semua, lanjut Eggy, harus fokus arahkan pada pergantian rezim dengan revolusi.


"Di sini sudah ada brader kita LaNyalla yang menjadi trigger dalam menyuarakan masalah bangsa. Apa skema yang harus kita lakukan. Misalnya dengan Kemah nasional di DPD RI sampai Jokowi tumbang. Karena yang perlu sekarang adalah keberanian menumbangkan rezim," tegasnya.


Niko Silalahi salah satu aktivis juga menyampaikan bahwa saat ini sudah tidak bisa berkutat lagi dengan diskusi publik, FGD dan sejenisnya. Tapi harus lebih konkret.


"Demokrasi sudah dibajak oleh DPR. Saatnya kita bergerak. Kita duduki DPD RI minta LaNyalla untuk memimpin perlawanan rakyat," papar dia.


Menanggapi hal itu LaNyalla mengatakan agar elemen masyarakat untuk bersabar. Bahwa semua harus memakai akal, pikir dan dzikir.


"Nggak usah khawatir, proses pasti akan terjadi se ijin Yang Maha Kuasa. Sebentar lagi Ramadhan tiba, kita perbanyak ibadah dan berdoa untun Indonesia lebih baik. Kemudian kita lihat setelah Ramadhan ada perubahan atau tidak. Kalau tidak, ya tandanya harus dilakukan upaya yang lebih," lanjutnya.


Yang terpenting, menurut LaNyalla, publik harus melakukan pengawasan terhadap Mahkamah Konstitusi. Agar ambang batas dihapus, sehingga semua anak bangsa bisa mencalonkan Presiden.


"Tidak usah kemah di DPD, kemahnya di MK. Kita awasi MK agar mendengarkan suara hati nurani rakyat," papar dia.(*)

PARIAMAN - MEDIAPORTALANDA – 14 MARET 2022 - Tiga program unggulan yang memperkuat nagari dalam kesiapsiagaan dan mitigasi bencananya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Padang Pariaman patut diapresiasi, yakni, Nagari Siaga dan Tanggap Bencana (Nan Sigab), Srikandi Siaga dan Tanggap Bencana (Si Sigab), dan Analisa Rencana Pasca Bencana (Lencana).

Program Si Sigab BPBD Padang Pariaman ini menjadi paling menarik. Sebab, pelaksanaannya menjadikan Ibu-ibu rumah tangga sebagai ujung tombak kesiapsiagaan bencana. Dalam launching, Bupati Padang Pariaman, Suhatri Bur, turut mengukuhkan Ketua TP-PKK Padang Pariaman, Yusrita Suhatri Bur, sebagai Srikandi Kebencanaan.


“Sedangkan program Nan Sigab dibentuk agar masyarakat terlibat aktif dalam mengkaji, menganalisis, menangani, memantau, mengevaluasi dan mengurangi risiko bencana diwilayahnya. Terutama dengan memanfaatkan sumber daya lokal demi menjamin keberlanjutan,” ujar Kalaksa BPBPD Padang Pariaman, Budi Mulya.


Dari program Nan Sigab, pihaknya pun melakukan pendalaman. Alhasil, Si Sigab lahir sebagai inovasi BPBD Padang Pariaman berikutnya. Adapun yang menjadi fokus dalam sasaran kegiatan Si Sigab, yaitu para IRT beserta anak-anak. Sehingga, mereka siap dan tanggap terhadap bencana.


“Penentuan IRT dan anak-anak sebagai sasaran kegiatan, karena kemampuan fisik kelompok perempuan dan anak-anak lebih lemah daripada kelompok pria. Selain itu, IRT tentunya lebih tahu tentang perlengkapan dalam rumah tangga,” tuturnya.


“Jadi, Si Sigab ini bagian dari ikhtiar dan gagasan Bupati Padang Pariaman yang dituangkan lewat BPDB Padang Pariaman untuk menyelamatkan masyarakat dari berbagai ancaman bencana,” imbuh Budi.


Sedangkan program Lencana, sambungnya, inovasi BPBD Padang Pariaman yang dihadirkan untuk pemulihan pasca bencana. Pelaksanaan program ini melibatkan perangkat nagari sebagai ujung tombak penyediaan data sekunder.


“Program ini menjadi sangat penting karena melalui dukungan data dari nagari, akan membantu daerah dalam pemulihan pasca bencana,” ujarnya didampingi Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Wirman, dan Kasi Kesiapsiagaan Heri Sugianto.


Bupati Padang Pariaman Suhatri Bur, sangat mengapresiasi inovasi BPBD Padang Pariaman tersebut. Untuk itu, ia berharap momentum tersebut menjadikan Kabupaten Padang Pariaman Siap Siaga dan Tanggap terhadap Bencana (Sigab).

“Melalui inovasi ini, saya berharap Padang Pariaman menjadi nagari mandiri, mampu dan mapan dalam mitigasi bencana. Begitupun juga dengan ibu-ibu, diharapkan ke depan menjadi ujung tombak kesiapsiagaan bencana dalam rumah tangga,” pesan Suhatri Bur.


Sementara itu, Ketua TP-PKK Padang Pariaman, Yusrita Suhatri Bur, bahkan bertekad akan berkolaborasi dengan Tim Penggerak PKK kecamatan hingga nagari, serta stakeholder untuk menggaungkan  Si Sigab, sebagai inovasi BPBD Padang Pariaman yang dinilai sangat penting untuk mitigasi kebencanaan.


“Kita akan berupaya menciptakan kader Si Sigab atau Srikandi Kebencanaan ini di kecamatan hingga nagari. Target kita, untuk memperkuat kesiapsiagaan tanggap bencana di Padang Pariaman,” ucapnya.


Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Wirman, melalui Kasi Kesiapsiagaan Heri Sugianto mengatakan, dalam launching tersebut juga dilaksanakan pemutaran video inovasi, penyerahan berita acara penetapan Nagari Siaga Tanggap Bencana (Nan Sigab) kepada Nagari Seulayat Ulakan, sebagai nagari yang memenuhi syarat sebagai Nan Sigab.


“Setelah Nagari Seulayat Ulakan Tapakis pada tahun ini, kita akan menjadikan Nagari Campago Selatan Kecamatan V Koto Kampung Dalam sebagai Nan Sigab berikutnya,” ulasnya. (**)



PADANG - MEDIAPORTALANDA - Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sumbar menghadiri acara Focus Group Discussion (FGD) bersama dengan Jaringan Pimred Online (JPO) dengan tema Sumbar Darurat Kekerasan Seksual Terhadap anak,  tanggung jawab siapa, di Aula Kantor Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar, Kamis 17/3.


Dalam sambutan Kapolda Sumbar Irjen Pol Teddy Minahasa P yang dibacakan Kabid humas Kombes Pol Satake Bayu Setianto menyampaikan, bahwa tujuan panitia mengangkat acara focus group discussion (FGD) yang bertemakan tentang sumbar darurat kekerasan seksual terhadap anak tanggung jawab siapa. ini adalah rasa prihatin dari pemerintah Provinsi Sumbar, terutama Jaringan Pimred Online (JPO) atau media online wilayah Sumbar terkait adanya perlakuan kekerasan seksual di bawah umur yang semakin marak terjadi di wilayah Provinsi Sumbar, apalagi kekerasan seksual ini banyak menimpa generasi muda kita, sebagai penerus bangsa kita di masa depan, dalam hal ini akan dapat merusak tatanan kehidupan, khususnya tatanan kehidupan generasi muda Provinsi Sumbar, yang terkenal dengan sandi kehidupan masyarakat minangkabau “adat bersandikan syarak, syarak bersandikan kitabullah”.

Lebih lanjut Kabid humas menyampaikan,  kita menyadari bahwa di era reformasi sekarang ini masyarakat semakin kritis terhadap kebijakan–kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah, selain itu masyarakat juga menuntut adanya informasi yang transparan dari lembaga pemerintah itu sendiri, atau memberikan penerangan dan informasi kepada masyarakat tentang kebijakan serta tujuan yang akan dicapai oleh lembaga pemerintah atau masyarakat terutama dalam penanganan tindakan kekerasan seksual di bawah umur. menindaklanjuti perubahan tersebut di dalam kesempatan ini marilah kita hidupkan kembali budaya lokal. kita kembalikan fungsi keluarga, RT, maupun RW sebagai benteng untuk mencegah terjadinya kekerasan dalam keluarga terutama tentu saja kekerasan terhadap anak ataupun perlakuan yang tidak wajar terhadap anak dibawah umur. keluarga, terutama orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan kepribadian anak.

Diakhir sambutan Kapolda Sumbar, Kabid humas menyampaikan agar peserta FGD ini mengikuti dengan seksama dan sungguh - sungguh  serta  jangan  hanya dijadikan  sebagai  kegiatan  formalitas belaka, mari munculkan berbagai gagasan, pemikiran serta ide baru namun tetap rasional yang dapat diimplementasikan dalam penanganan tindakan kekerasan seksual di bawah umur di wilayah Provinsi Sumbar, Jadikan FGD ini sebagai sarana tukar menukar informasi dan cara bertindak dalam menangani berbagai permasalahan terkait dengan fungsi tungku tigo sajarangan, tali tigo sapilin dalam mengelola estetika budaya adat minangkabau yang lebih profesional di masa mendatang.


Dalam kegiatan itu, turut hadir Pengurus LKAAM Provinsi Sumbar, Dandim 0312, LSM dan Tokoh Masyarakat Kota Padang.(*)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.