-->

Latest Post

By: Kamila Khairani
Sastrawan dan Member Akademi Kreatif

Meski hadirnya didamba
Fajar tak pernah abadi
Akan datang membersamai
Dan meninggalkan di waktunya

Hingga mentari menyapa
Mengetuk memberi salam
Menitipkan perih di hidup ini
Ada kalanya kegersangan melanda

Sampai pada oase pengharapan
Agar segalanya kian bermakna
Meretas segala mimpi dan harap
Di bawah bayang-bayang angan

Terbakar, terluka dan merana
Mencampakkan keakuan diri
Sampai ikhlas hadir bertahta
Bertemankan kesabaran yang setia

Tak mampu lagi torehkan tinta
Tak lagi sanggup berucap kata
Biarlah hati yang berikhtiyar
Tuk ikhlaskan segala perih

Hingga terlihat di balik awan
Langit jingga di ufuk senja
Pergantian itu pasti adanya
Membenahi segala kekurangan

Berlahan mimpi mewujud nyata
Meredam lara yang membahana
Mengeringkan segala nestapa
Menutupi tirai keangkuhan

Dan lihatlah ke atas sana
Langit malam menawan indah
Beriaskan gemintang gemerlapan
Menerangi seisi cakrawala

Menyinari kesunyian hati
Merasuki menjalari keceriaan
Menghadirkan rekahan senyuman
Untuk abadi selamanya

Hidup dalam curahan kasih Illahi
Untuk menghamba seutuhnya
Menyelami lautan mahabbah
Berbalut taqwa meredam nista

Bogor, 07 November 2019
Kala hati kembali merindu


  
MPA, KAB SOLOK – Birokrat Muda Hendra Saputra SH, M.Si atau yang biasa disapa Buya Hend, adalah sosok muda kebanggaan rang Kab. Solok.  Kali ini, Buya Hend menghadiri Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Islam Internasional Terpadu Asy-Syifaa Wal Mahmuudiyyah Kab. Sumedang, Jawa Barat.  Kehadirannya sekaligus dalam rangka memenuhi undangan Ponpes.

Di peringatan maulid itu, Hendra Saputra berharap besar pada ribuan jamaah yang hadir supaya senantiasa menanamkan sifat sabar dalam setiap aspek kehidupan. Sebab sifat sabar merupakan salah satu akhlak paling mulia diajarkan Rasulullah kepada ummatnya.

12 Rabiull Awal 1441 Hijriyah menjadi peringatan Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Arti makna dan hikmah maulid Nabi Muhammad SAW begitu penting untuk dikaji.


Hendra Saputra SH, M.Si (Birokrat Muda, Rang Paninggahan Kab, Solok)

Hendra juga berharap, perantau minang yang ada di Sumedang serta seluruh lapisan masyarakat, agar dapat mengevaluasi diri dan terus meneladani sifat-sifat mulia Nabi Muhammad SAW, dan tidak menjadikan maulid hanya seremonial semata. Tetapi harus dijadikan sarana introspeksi diri, papar Hendra.

Perlu untuk direnungkan, sebutnya, sudah sejauh manakah kita meneladani dan mengikuti sifat-sifat mulia serta ajaran Nabi Muhammad SAW. Diharapkan di hari maulid Nabi ini, semoga menjadi momentum untuk kita bercermin dan introspeksi diri agar terus berbenah menjadi hamba yang bertaqwa.

“Hendaknya, apa yang diucapkan oleh Nabi, sesuai dengan apa yang dilakukan. Dan itu patut untuk kita contoh dan teladani”, katanya lagi.

Yang mana, salah satu sifat Nabi Muhammad adalah “Amanah”, sifat ini merupakan modal buat kita hidup bersosial dalam bermasyarakat.

Era sekarang, terangNya, pentingnya pemimpin amanah dalam memimpin sebuah negeri merupakan harapan besar ummat (rakyat).  Sebab dengan sifat amanahnya itu, tentulah akan mudah bagi seorang pemimpin untuk membangun sebuah negeri terutama mensejahterakan rakyatnya. Maka sifat amanah, harus kita teladani bersama.

“Semoga kampung kita Sumatera Barat khususnya Kab. Solok yang kita cintai, usai pilkada tahun depan diberikan oleh Allah SWT pemimpin yang amanah. Aamin Allahhuma Amin”, ucap Hendra Saputra dihadapan jemaah minang Ponpes Islam Internasional Terpadu Asy-Syifaa Wal Mahmuudiyyah Sumedang.

Sifat Nabi yang harus diteladani berikutnya adalah, selalu mengajak ummat kepada jalan kebenaran, ujar Buya Hend.

Tak kalah hebatnya lagi adalah “Cerdas”. Sifat Nabi ini sangat patut untuk diteladani juga.  Saya selaku bagian dari pemerintah daerah akan terus berupaya dan mendampingi masyarakat menjadi cerdas dan mengajak untuk selalu berbuat kebaikan dalam kecerdasan”, tuturnya menambahkn.

Perayaan maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang luas dalam masyarakat dan kehidupan umat Islam di berbagai belahan dunia. Termasuk di Indonesia, jauh sesudah Rasulullah Muhammad SAW wafat. (RED).



MPA,KAB SOLOK – Dimasa jaya kerajaan-kerajaan Islam, peran ulama, Buya/ustad sangatlah menonjol sebagai bagian dari pejabat elite. Fungsinya yakni untuk memperkokoh kedudukan pemimpin yang duduk di singgasana.  Asia Tenggara apalagi Nusantara, hubungan erat raja dan ulama bukanlah hal yang aneh, contohnya di Kerajaan Samudera Pasai.

Gambaran jelas keberadaan ulama di tengah politik kerajaan muncul pada abad 16. Salah satunya Hamzah Fansuri, ulama Melayu Nusantara yang peninggalannya relatif lengkap, mencakup biografi dan karya keislaman. Selain itu, ulama terkemuka yang meninggalkan karya monumental antara lain Shamsuddin al-Sumaterani (1693), Nuruddin ar-Raniri (1658), Abdul Rau’f al-Sinkili (1693), dan Yusuf al-Makassari. Pada abad 18 muncul Abd. Samad al-Falimbani dan Syekh Daud al-Fatani.

Apalagi di bidang hukum, ulama memegang peran sentral membuat regulasi dalam menentukan kehidupan keagamaan umat. Para ulama berkontribusi besar memberi legitimasi pada budaya politik serta bidang lainnya, sebut Sukhrawardi salah seorang pemerhati generasi millennial Kab. Solok.

Karya intelektual para ulama menjadi sumber legitimasi bagi negeri ini. Rakyat tentu berharap, ulama dapat semakin berperan aktif dalam memberikan arahan pada kehidupan umat di berbagai aspek kehidupan, sekaligus memberikan panutan dan keteladanan. Bila ulama memiliki kredibilitas dan integritas yang tinggi serta akhlaqul karimah, maka umat secara keseluruhan tentulah akan menjadi baik, paparnya.

Sejarah telah menunjukkan, bahwa peranan sentral para ulama melawan penjajahan dan mempertahankan serta mengisi kemerdekaan adalah yang terdepan. Begitu juga ketika penjajah akan kembali lagi, para ulama di bawah kepemimpinan KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa  “Wajib hukumnya mempertahankan kemerdekaan Indonesia”. Tentunya akan terlalu banyak jika disebutkan satu per satu.

Pastinya, peranan ulama dalam mengawal perjalanan NKRI sehingga menuju “baldatun thayyibatun wa-rabbun ghafur”, sangatlah besar, tutur Sukhra Wardi.

Ulama memiliki tanggung jawab tinggi untuk mengawal perjalanan umat dan negeri ini ke depan, dalam menuju baldatun thayyibatun wa-rabbun ghafur.

Kita jangan terfokus pada pembentukan lapangan pekerjaan saja. Tetapi kita juga harus terfokus pada pembentukan generasi yang cerdas, beriman dan berakhlak. Peran serta ulama untuk memimpin, mengontrol dan memberi masukan positif agar terciptanya generasi yang baik dan bertaqwa, sangat kita harapkan.

Perlunya merumuskan konsep pendidikan ke-agamaan yang lebih ideal, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi di suatu daerah, begitu penting.


Untuk di Kab. Solok ini, peran ulama (Buya/ustad) dinantikan banyak umat, masyarakat kabupaten secara keseluruhan. Tentunya dalam menghadirkan dunia pendidikan ke-agamaan yang ideal.

Kepemimpinan seorang Buya untuk memimpin negerinya terutama menyoal dunia pendidikan ilmu ke-agamaan serta bidang lainnya, adalah langkah tepat bagi rakyat telah mensupportnya, lanjut Sukhra Wardi memaparkan.

Dengan akan memasuki Pilkada 2020 tahun depan, rakyat secara keseluruhan disetiap negeri telah memahami, bahwa sosok ulama (Buya/ustad) dalam memimpin daerahnya “Dibutuhkan”.  Ulama mampu menciptakan generasi baik dan cerdas. Generasi yang beriman serta ber-ahklak akan menjadi tumbuh subur di disetiap daerah.

Begitu juga di Kab. Solok, masyarakat luas sudah memiliki sosok yang dicintai rakyat yakni Buya Mahyuzil Rahmat, S.Ag. Beliau adalah seorang Buya yang intelektual calon pemimpin masa depan daerah penghasil beras terbesar di Sumatera Barat ini. Selain cerdas, ia (Mahyuzil) merupakan figure kesayangan umat (masyarakat) Kab. Solok, umumnya.  Pada tingkat Internasional khususnya Negara-negara Islam, Buya Mahyuzil sudah cukup dikenal dekat oleh para Ulama-ulama besar. (RED).

Catatan :  Tangan lembut seorang Ulama atau Buya dalam mengarahkan generasi millennial menjadi generasi yang cerdas dan ber-akhlak “Sangatlah Penting”. Sebab, wajib hukumnya bagi kita untuk menciptakan generasi yang ber-iman. Jadi, adalah PAS, figure seorang Buya merupakan pilihan tepat dalam memimpin sebuah negeri.  Celakalah, bila seorang pemimpin dikuasai oleh ambisi duniawi, sebab dia tidak akan mampu mengurus akhlak generasinya secara baik. (rill)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.