-->

Latest Post

Photo Istimewa

MPA, PADANG - Ketua Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PERPAMSI), Pimpinan Daerah Sumatera Barat, Hendra Pebrizal, S. Sos, MM Sebagai penanggap melaksanakan Webinar bersama 312 peserta se Indonesia, Rabu (17/6/2020). Webinar tersebut dengan tema ” Perhitungan dan pengajuan penyesuaian tarif air minum”.

Disampaikan oleh Ketua DPD Perpamsi Sumbar Hendra Pebrizal, S. Sos, MM yang juga Direktur Utama Perumda Air Minum Kota Padang, Webinar tentang pengajuan penyesuaian tarif air minum tersebut berdasarkan dengan peraturan Menteri Dalam Negeri No. 70 tahun 2016 dimana pemerintah daerah terutama kepala daerah bagaimana memberikan subsidi ke PDAM- PDAM di daerahnya, yang sedang sakit dan kurang sehat berdasarkan penilaian badan pengelolaan dan pengembangan sistem penyediaan air minum (BPPSPAM), terangnya.

”Dalam hal ini peran serta kepala daerah memutuskan tarif lebih kecil dari usulan tarif yang diajukan BUMD penyelenggara SPAM yang mengakibatkan tarif rata-rata tidak mencapai pemulihan biaya penuh ( Full cost recovery), maka Pemerintah daerah harus memberikan subsidi untuk menutupi kekurangannya melalui APBD,” tegas pria yang mudah senyum ini.

Namun, lanjut Hendra Pebrizal, jika pemerintah daerah tidak mampu untuk penyesuaian tarif dan menetapkan tarif lebih rendah dari harga pokok, maka mau tak mau pemerintah daerah harus bisa menyesuaikan dengan kondisi ril. Artinya, harga pokok produksi dengan tarif rata-rata harus lebih rendah dari harga pokok, pintanya.

Lanjutnya, misalkan tarifnya 1500 sementara harga produksi air kisaran 2000, maka selisih yang 500 lagi pemda harus memberikan subsidinya.

Realita saatnya, tambahnya lagi, banyak PDAM yang tak mampu. Harga bahan pokok airnya lebih tinggi daripada harga rata- rata produksi. ” Nah, tentunya hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kinerja. Apalagi rata- rata 2/3 PDAM secara nasional dalam kondisi sakit dan kurang sehat,” beber Dirut Perumdam Padang ini ke www.kupasnews.com diruang kerjanya usai Webinar.

Maka, disinilah peran Kemendagri bagaimana menginstruksikan kepada Gubernur, Bupati dan walikota notabenenya sebagai pemilik PDAM yang ada di Indonesia. Bahkan saat ini 16 PDAM yang ada di kabupaten Kota di Sumbar, ada yang kategori sakit dan kurang sehat.

Daerah yang sakit itu, Kabupaten Solok, Solok Selatan, Pasaman Barat dan Daerah yang kurang sehat Tanah Datar, Pesisir Selatan, Padang Pariaman dan Limapuluh Kota. Namun, yang menjadi kendala selama ini, banyak ketika ada pilkada dan pileg susah penyesuaianya, janganlah di jadikan politisasi, pinta Ketua Perpamsi Sumbar ini lagi.

Hendra Pebrizal selaku Ketua DPD Perpamsi Sumbar, dirinya menghimbau agar kepala daerah lebih fokus memperhatikan perusahaan air minum. Sebab, PDAM hanya sebagai operator dan tanggung jawab pelayanan air kepada masyarakat adalah kepada daerah setempat, imbaunya.

”Jadi, apapun regulasi yang disampaikan pemerintah daerah tentu itu yang harus mereka jalani, namun ketika regulasi yang keluar bertentangan dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan managemen PDAM tentunya PDAM tidak akan maju,” harap Hendra

Perlu juga digaris bawahi, ketika pelayanan bagus, PDAM sehat, tagihan lancar lalu PDAM beruntung. Nah, disinilah ada pembagian laba kisaran 55 persen harus di setor ke Pemerintah Daerah, ujar Ketua Perpamsi Sumbar mengakhirinya. (**).

Photo Istimewa

MPA, PADANG - Melihat kesiapan daerah dalam menuju tatanan baru “New Normal” di wilayah Provinsi Sumatera Barat, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sumbar berkunjung ke Kota Payakumbuh sekaligus melaunching Kampung Tangguh yang ada disana.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Kapolda Sumbar Irjen Pol Drs. Toni Harmanto, MH, Danrem 032 Wirabraja, pejabat utama Polda Sumbar serta kepala dinas terkait lainnya, Rabu (17/6).

Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo terkait kesiapan Provinsi Sumbar menuju new normal dan ketahanan pangan. 

Kedatangan Gubernur, Kapolda dan Danrem beserta rombongan disambut Walikota Payakumbuh Riza Palevi, Kapolres Payakumbuh AKBP Dony Setiawan, S.Ik dan Forkopimda Kota Payakumbuh.

Awalnya, rombongan menuju Kampung Tangguh Nusantara di Perumnas Kubang Gajah, Kelurahan Limbukan Kecamatan Payakumbuh Selatan. 

Disana, Irjen Pol Toni Harmanto dan Irwan Prayitno melihat kesiapan Perumnas Kubang Gajah dalam menghadapi dan mengantisipasi penyebaran virus corona (Covid-19), seperti adanya posko relawan, tempat cuci tangan, alat penyemprot disinfektan, thermo gun, APD.

Selain itu, di posko tersebut juga ada buku tamu, buku saku desa tanggap Covid-19, daftar orang dalam pengawasan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), buku pendatang, buku tanda terima paket dari jasa pengiriman, dan buku daftar keluar masuk warga.

Kapolda Sumbar Irjen Pol Toni mengatakan, Kampung Tangguh Nusantara ini merupakan program dari Presiden RI, Kapolri, dan Panglima TNI yang kemudian di aplikasikan di wilayah Indonesia. Untuk di Sumbar, kampung tangguh tersebut juga akan dilaunching dan diberikan namanya lantaran melihat kearifan lokal.

“Jadi kita masih mencari satu nama, yaitu “Nagari Tageh Rumah Gadang” untuk di wilayah Sumatera Barat,” katanya usai melihat Posko Kampung Tangguh Kubang Gajah.

“Tadi pak Gubernur sudah menyampaikan, tidak hanya aspek kesehatan, aspek keamanan, aspek ketersediaan pangan sosial ekonomi dan sebagainya memang bisa menunjang seperti lokasi ini, kita berharap ini bisa diadopsi di tempat lain di seluruh Sumbar,” tambahnya.

Nantinya, dengan adanya kampung tangguh yang telah didirikan di beberapa daerah di Sumbar kemudian akan dilaporkan langsung kepada pemerintah pusat.

“Ya ini kan sudah menjadi pelaporan bagi bapak Kapolri, Panglima TNI kepada bapak presiden dengan kegiatan ini.

Terkait ketahanan pangan di Sumbar, Kapolda mengatakan bahwa pihaknya dan jajaran TNI bersama dengan Forkopimda baik ditingkat Provinsi maupun tingkat daerah telah bekerja sama. 

Dari jajaran Polri sendiri kata Kapolda, telah menyiapkan bantuan untuk masyarakat yang belum mendapatkan bantaun dari pemerintah. 

“Kita menyiapkan Polres, itu kita siapkan (bantuan) 10 ton beras. Jadi total dengan 19 Polres kita hampir 190 ton dan dari Polda 25 ton,” pungkasnya.(*)

Sumber bidhumas Polda Sumbar

Anggota Komisi IV DPRD Kota Padang Zalmadi S.Hum

MPA, PADANG - Terkait persoalan SD-09 Koto Luar Pauh Kota Padang yang awalnya digembok kini disegel, diduga pemicunya lantaran belum adanya kata sepakat dan kepastian pembayaran ganti kerugian antara pemilik lahan (Ismail) warga Komplek Perumahan Waluyo Kec.Pauh Kota Padang dengan Pemko Padang (Dinas Pendidikan), 

Menanggapi hal tersebut, Kadis Pendidikan Kota Padang Habibul Fuadi mengatakan, pencairan dana ganti kerugian atas lahan warga yang terpakai oleh SD 09 masih berjalan dan sedang dibahas oleh tim.

"Untuk pencairan tentu butuh proses, dan ada mekanismenya, nanti jika sesuai jadwalnya kita bayarkan, kita lunaskan, anggarannya sudah ada yang jelas direalisasikan tahun 2020 ini" ucap Habibul (10/06) dikantornya.

Lebih lanjut Habibul memaparkan, "Kami berharap pemilik lahan untuk bersabar, dan aparatur pemerintahan yang ada ditingkat Kecamatan serta Kelurahan dan masyarakat setempat hendaknya turut serta mendukung, agar proses pelaksanaan pendidikan nantinya tidak terganggu oleh permasalahan ini" harap Habibul.

Ditempat terpisah, anggota Komisi IV DPRD Kota Padang Zalmadi S.Hum angkat bicara.

Zalmadi S.Hum secara tegas meminta kepada pihak Pemko Padang (Dinas Pendidikan) untuk segera melakukan musyawarah duduk bersama mencari solusi yang baik, karena penutupan akses masuk ke sekolah dipastikan mengganggu proses pendidikan di SD tesebut 


"Kami himbau kepada Pemko Padang khususnya Dinas terkait yakni Dinas Pendidikan Kota Padang bersama pemilik lahan diharapkan bisa duduk bersama kembali untuk mencari solusi yang lebih baik kedepannya" ucap Zalmadi (Senin 15/06).


"Kita menginginkan masalah ini bisa diselesaikan dengan segera, agar proses belajar dan mengajar tidak terganggu dengan hal-hal seperti ini.


"Jangan biarkan masalah ini membesar dan mengganggu kelancaran proses belajar dan mengajar siswa" tegasnya.


"Masyarakat hanya minta kepastian hitam diatas putih atau bukti nyatanya sebagai pegangan. Saya rasa titik permasalahannya ini saja dan sudah bisa kita pahami secara bersama".


"Kita sarankan pihak Dinas untuk segera megatasinya, dan mengambil langkah-langkah bijak.  Kedua belah pihak mesti saling memahami agar tujuan memajukan pendidikan masyarakat bermutu dan berkualitas bisa terwujud".


"Pada prinsipinya kita perlu menjalin komunikasi yang baik dan intens, agar hal-hal serupa tidak terulang lagi kedepan, dan hendaknya jangan sampai mencoreng mutu dan kualitas pendidikan itu sendiri". harap Zalmadi.


(ar/deni)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.