-->

Latest Post


Photo Istimewa

WASHINGTON - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengusir dua anggota delegasi Kuba di PBB dan membatasi perjalanan anggota delegasi yang tersisa. Pengumuman ini dikeluarkan hanya beberapa hari sebelum para pemimpin dunia berkumpul untuk Sidang Umum tahunan PBB.

Departemen Luar Negeri (Deplu) mengumumkan bahwa kedua diplomat Kuba yang diusir tersebut berusaha melakukan operasi yang berbahaya bagi keamanan nasional AS. Namun Deplu AS tidak menguraikan tuduhan yang diajukan ataupun mengungkap identitas kedua diplomat tersebut.

"Departemen Luar Negeri hari ini memberi tahu Kementerian Luar Negeri Kuba bahwa Amerika Serikat mengharuskan kepergian segera dua anggota Misi Permanen Kuba ke PBB karena menyalahgunakan hak tinggal mereka," kata juru bicara Deplu AS Morgan Ortagus dalam pernyataannya.

"Ini karena upaya mereka untuk melakukan operasi untuk mempengaruhi terhadap Amerika Serikat," sambungnya seperti disitat dari Reuters, Jumat (20/9/2019).

Ortagus juga mengatakan gerakan anggota delegasi Kuba lainnya pada dasarnya akan terbatas di pulau Manhattan.

"Kami mengambil setiap dan semua upaya terhadap keamanan nasional Amerika Serikat dengan serius, dan akan terus menyelidiki setiap personel tambahan yang mungkin memanipulasi hak istimewa tempat tinggal mereka," ujar Ortagus.

Tindakan pemerintah AS ini sontak menarik kecaman dari Havana. Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez mengecam tindakan AS sebagai sesuatu yang tidak dapat dibenarkan.

"Penolakan bahwa mereka mungkin telah melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan status diplomatik mereka adalah fitnah yang vulgar," katanya di Twitter.

"Pengusiran memiliki tujuan memprovokasi spiral diplomatik yang akan mengarah pada penutupan kedutaan bilateral, pengetatan lebih lanjut dari blokade (AS) dan penciptaan ketegangan antara kedua negara," imbuhnya.

Di bawah "perjanjian kantor pusat" PBB 1947, AS pada umumnya diminta untuk mengizinkan akses ke PBB untuk diplomat asing. Tetapi Washington mengatakan dapat menolak visa karena alasan keamanan, terorisme, dan kebijakan luar negeri, meskipun ketentuan ini hanya digunakan secara terbatas.

Insiden ini adalah tanda terbaru dari memburuknya hubungan AS dengan Kuba yang dikuasai komunis, dengan fokus terutama pada dukungan Havana untuk Presiden sosialis Venezuela Nicolas Maduro, sejak Presiden AS Donald Trump menjabat pada Januari 2017.

Selama beberapa dekade, Washington dan Havana, musuh lama Perang Dingin, telah terlibat dalam pengusiran para diplomat.

Pemerintahan Trump mengusir 15 diplomat Kuba pada September 2017 setelah secara tajam menarik staf kedutaan AS di Havana karena sakit misterius yang Washington katakan telah mempengaruhi personil Amerika di sana.

Trump juga telah memberlakukan sanksi ekonomi baru pada Kuba dan membatasi perjalanan ke pulau itu. Kebijakan ini bersebrangan dengan keputusan pendahulunya, Barack Obama.

Washington telah menjelaskan bahwa tujuan utama dari kampanye tekanannya adalah untuk memaksa Kuba meninggalkan Maduro, sesuatu yang menurut Havana tidak akan pernah dilakukan. Trump, bagaimanapun, telah berhenti memutuskan hubungan diplomatik dengan Kuba yang dipulihkan oleh Obama pada 2015 setelah lebih dari lima dekade permusuhan.
(*)


Foto SindoNew.com

YOGYAKARTA - Gunung Merapi kembali memuntahkan awan panas guguran atau wedus gembel, Jumat (20/9/2019) pukul 17.48 WIB. Awan panas guguran tercatat di seismogram Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) dengan amplitudo maksimal 75 mm dan durasi kurang lebih 150 detik.

"Jarak luncur 1.500 meter atau 1,5 km menuju ke arah hulu Kali Gendol," terang Kepala BPPTKG Hanik Humaida seperti Sindonews, Jumat (20/9/2019).

Dia menjelaskan, selain awan panas guguran, sepanjang hari ini Gunung Merapi juga beberapa kali mengeluarkan lava pijar guguran. Dari CCTV yang dipasang di puncak Merapi, diketahui sampai pukul 18.00 WIB, tiga kali lava pijar guguran yang dimuntahkan. "Jarak luncur lava antara 450 meter hingga 900 meter," katanya.

Kendati demikian, pihaknya masih belum melakukan perubahan status Merapi. Masyarakat dihimbau tetap tenang dan menjalankan aktivitas seperti biasa. "Jarak aman pada radius lebih dari 3 km dari puncak Merapi," pungkasnya. (*)


MPA, MERAUKE — Aksi heroik kembali di perlihatkan oleh prajurit TNI dari Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan(Satgas Pamtas) Yonif MR 411/PDW Kostrad Pos Kaliwanggo saat menyelamatkan seorang anak bernama Herman Mauli Murnan (10 Thn) yang tenggelam pada saat sedang memancing di Sungai Warma, Kampung Erambu, Distrik Sota, Kab.Merauke, Papua, Kamis (19/9/2019).

Saat ditemui Danpos Kaliwanggo Kapten Inf Adik Sunarto mejelaskan, bahwa pada hari Rabu 18/9/2019 sebanyak 8 personel Pos Kaliwanggo yang dipimpin oleh Serka Sarwoto saat hendak kembali ke pos dari patroli patok MM.12.2 kemudian dipinggir Sungai Warma terdengar suara minta tolong dari dua orang anak, bahwa temannya tenggelam saat berusaha berenang untuk melepas senar pancingnya yang tersangkut.

"Dengan sigap dua personel atas nama Kopda Juwadi dan Pratu Popi Alex melompat berenang kesungai untuk menyelamatkan anak tersebut, kemudian diberikan nafas buatan karena sang anak banyak minum air sungai, setelah anak tersebut sadar selanjutnya personel membawanya pulang ke pos untuk dicek kondisi kesehatannya dan dilaporkan ke Dansatgas," ucap Danpos.

Tambahnya, setelah diberi makan dan minum serta vitamin oleh Bintara Kesehatan (Bakes) Pos Serka Abdul Wahab kondisi kesehatan Herman pun sudah membaik dan pulih kembali, selanjutnya kami antarkan anak tersebut pulang kerumahnya untuk  diserahkan kepada kedua orang tuanya di Kampung Erambu,Distrik Sota.

Sementara itu Danpos Kaliwanggo Kapten Inf Adik Sunarto bersama tiga anggota mengantarkan pulang Herman Mauli Murnan kepada orang tuanya, ucapan terimakasih kepada Satgas Yonif MR 411/PDW Kostrad disampaikan oleh orang tua Herman Mama Maria Welmince Kidup (36 Thn), karena sang ayah Hantonius Murnan (37 Thn) sedang pergi berburu.

"Kami ucapkan terimakasih banyak kepada bapak-bapak tentara dari Satgas Yonif MR 411/PDW Kostrad atas kepedulian dan pengorbanannya telah menyelamatkan putra kami Herman Mauli Murnan yang tenggelam di Sungai Warma saat memancing di Sungai Warma," ucap Mama Welmince.

Ditempat terpisah Dansatgas Yonif MR 411/PDW Kostrad Mayor Inf Rizky Aditya S.Sos., M.Han., menyampaikan sangat mengapresiasi atas tindakan sigap yang dilakukan oleh personel Pos Kaliwanggo menyelamatkan anak yang tenggelam disungai, hal tersebut menunjukkan kesiapan prajurit dalam membantu kesusahan masyarakat disekelilingnya. (rill)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.