-->

Latest Post

PADANG - MEDIAPORTALANDA - Kabid Humas Polda Provinsi Sumatera Barat, Kombes Pol Dwi Sulistyawan, SH. S.Ik. M.Si mengelar acara silaturahmi perdana dengan puluhan awak media, bertempat diruang serbaguna Lantai IV Polda Sumbar, Senin (15/8/2022).


Acara silaturahmi yang bertemakan "Kemitraan Bid Humas Polda Sumbar Dengan Awak Media" ini membahas tentang peran media massa dalam membuat dan memberitakan suatu peristiwa yang terjadi ditengah masyarakat, dan juga sinergitas antara para awak media dengan jajaran Polda Sumbar.

Diajang silaturahmi tersebut, Kombes Pol Dwi Sulistyawan, juga menyampaikan apa yang menjadi harapan Kapolda dan Wakapolda Sumbar. Yang pertama sebutnya, tentunya saya ingin sinergitas bid humas selaku pengemban pungsi kehumasan bisa berjalan dengan baik.


Kemudian, Kapolda berharap bahwa kita dalam profesi kehumasan ini harus benar benar bersinergi, jangan sampai antara kita bid humas Polda ada benturan, masalah dengan para awak media itu yang pertama.


Yang kedua, jangan juga ada masalah antara personel jajaran Polda Sumbar dengan awak media, hal ini benar-benar diwanti-wanti, diharapkan oleh Wakapolda, ungkapnya.


Selanjutnya Kombes Pol Dwi Sulistyawan berharap kepada semua awak media agar bisa bekerja sama terkait berbagai informasi yang terjadi di Sumbar, mesti ada Sinergitas antara bid humas dengan wartawan, Polres dan Polsek, harapnya.


Diujung silaturahmi, Kombes Pol Dwi Sulistyawan menyampaikan motto yang bisa bermanfaat buat kita semua yaitu. Mari menjadi polisi bagi diri sendiri supaya keluarga bisa dilindungi. Dimana setiap kejadian kejahatan terjadi akibat kurang terjaga keamanan terhadap diri sendiri, keluarga dan lingkungan.


Dalam kegiatan tersebut, Kabid humas Polda Sumbar didampingi oleh Kasubbid Penmas AKBP Afriyani, S.H dan Kaur Penum Kompol Idha Gusmara, S.Ikom, M.Kom serta diikuti staf Bidhumas Polda Sumbar. (An)


Pelaksanaan Sertifikasi Kompetensi Wartawan – SKW  oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi – BNSP melalui Lembaga Sertifikasi Profesi  – LSP Pers Indonesia menuai reaksi yang sangat positif di kalangan insan pers di seluruh Indonesia. Tak heran permintaan untuk mengikuti SKW pun makin massif disuarakan wartawan dari berbagai daerah di Indonesia.


Sertifikat Kompetensi berlogo Burung Garuda Pancasila yang diterbitkan BNSP itu rupanya meyakinkan wartawan memilih ikut SKW karena mendapat jaminan kepastian pengakuan negara terhadap system sertifikasi kompetensi bagi insan pers di Indonesia.


Legitimasi pemerintah terhadap pelaksanaan SKW melalui BNSP inilah yang membuat kubu Dewan Pers meradang. Klaim Dewan Pers sebagai satu-satunya lembaga yang berhak melaksanakan Uji Kompetensi Wartawan pun berkumadang di seantero jagad tanah air. Dengan bermodalkan pernyataan seorang Dirjen IKP Kementrian Kominfo Usman Kansong bahwa Dewan Pers merupakan satu-satunya lembaga pelaksana uji kompetensi wartawan, kemudian Dewan Pers menjadikannya bahan propaganda negative tentang pelaksanaan SKW oleh BNSP melalui LSP Pers Indonesia. 


Dengan begitu Dewan Pers membuat siaran pers ke seluruh media jaringannya dan membuat opini mengenai pelaksanaan SKW dan pemberian dukungan Kementrian Kominfo RI kepada LSP Pers Indonesia. Marak diberitakan rekomendasi Kementrian Kominfo bukan untuk sertifikasi melalinkan hanya untuk pelatihan pers. Berita hoax yang disiarkan Dewan Pers tanpa konfirmasi itu pun beredar di kalangan wartawan meski jelas-jelas melanggar kode etik jurnalistik. 


Karena secara jelas Kementrian Kominfo memberikan dukungan kepada LSP Pers Indonesia dalam rangka mendapatkan lisensi dari BNSP. Jadi dukungan itu bukan rekomendasi untuk mengadakan pelatihan. Karena sesungguhnya BNSP justeru melarang LSP bidang apapun untuk mengadakan pelatihan. LSP hanya boleh mengadakan sertifikasi dan Uji Kompetensi bukan pelatihan.  


Sebuah pembelajaran yang berharga bagi insan pers bahwa hanya karena kehilangan legitimasi pelaksanaan UKW, Dewan Pers berani membuat siaran pers dengan mengenyampingkan prinsip perimbangan berita yang menjadi hal yang sangat esensial bagi pers di Indonesia terkait Kode Etik Jurnalistik. 


Sangat sulit dimengerti Dewan Pers menganggap pelaksanaan UKW adalah kewenangannya berdasarkan Pasal 15 Ayat (2 ) huruf f Undang-Undang nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sehingga pelaksanaan UKW ini menurut Dewan Pers karena UU Pers merupakan lex spesialis terhadap pelaksanaan sertifikasi kompetensi. 


Dewan Pers juga memberi contoh profesi Dokter dan Pengacara yang melaksanakan sendiri uji kompetensi oleh organisasinya. 


Berdasarkan klaim di atas, penulis ingin memberi pencerahan kepada seluruh Anggota Dewan Pers termasuk para konstituennya bahwa UU Pers itu lex spesialis terhadap Kitab Undang-Undang Hukum  Pidana bukan terhadap Undang-Undang Ketenagakerjaan. Profesi Dokter dan Pengacara itu diatur secara eksplisit di dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran dan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat. 


Pada UU Praktik Kedokteran Pasal  1 ayat (4) disebutkan : “Sertifikat kompetensi adalah surat tanda pengakuan terhadap kemampuan seorang dokter atau dokter gigi untuk menjalankan praktik kedokteran di seluruh Indonesia setelah lulus uji kompetensi.”


Selanjutnya impelemntasi pasal 1 itu diatur pada pasal Pasal 27 yang berbunyi : “Pendidikan dan pelatihan kedokteran atau kedokteran gigi, untuk memberikan kompetensi kepada dokter atau dokter gigi, dilaksanakan sesuai dengan standar pendidikan profesi kedokteran atau kedokteran gigi.”


Sementara dalam UU Advokat ditaur pada Pasal 2 ayat (1) disebutkan : “Yang dapat diangkat sebagai Advokat adalah sarjana yang berlatar belakang pendidikan tinggi hukum dan setelah mengikuti pendidikan khusus profesi Advokat yang dilaksanakan oleh Organisasi Advokat.”


Kemudian diatur pada Pasal 3 ayat (1) huruf f yang berbunyi : “Untuk dapat diangkat menjadi Advokat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :  f. lulus ujian yang diadakan oleh Organisasi Advokat."


Dua profesi itu jelas dan nyata disebut secara eksplisit dalam Undang-Undang masing-masing mengenai pelaksanaan sertifikasi dan uji kompetensinya. Sedangkan UU Pers tidak mengatur secara eksplisit tentang sertifikasi kompetensi wartawan. 


Sementara dasar kewenangan pelaskanaan UKW yang diklaim Dewan Pers mengacu pada Pasal 15 ayat (2) huruf f yang berbunyi : “memfasilitasi organisasi-organisasi pers dalam menyusun peraturan-peraturan di bidang pers dan meningkatkan kualitas profesi kewartawanan."


UU Pers pasal berapa yang memberi kewenangan kepada Dewan Pers memberikan lisensi atau ijin pelaksanaan UKW kepada puluhan Lembaga Penguji Kompetensi . Dewan Pers sudah bertindak menjadi regulator bukan lagi lembaga independen. 


Dewan Pers lupa bahwa pada sidang uji materi di Mahkamah Konstitusi, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo secara tegas mengatakan kalimat dalam pasal ini secara jelas Dewan Pers hanyalah fasilitator bukan regulator. Karena Pasal ini mengatur tentang kewenangan menyusun peraturan-peraturan di bidang pers adalah tugas organisasi-organisasi pers. 


Sebetulnya kalimat pada pasal ini mengatur tentang dua kewenangan organisasi pers yakni menyusun peraturan dan meningkatkan kualitas profesi kewartawanan. Jadi kalimat kewenangan Dewan Pers untuk peningkatan kualitas profesi kewartawanan adalah keliru, karena itu adalah kewenangan organisasi pers. 


Pernyataan tegas Presiden Ri Joko Widodo bahwa Dewan Pers hanyalah fasilitator pada saat sidang uji materi UU Pers di MK itu seharusnya menjadi pegangan dan acuan Dirjen IKP Kementrian Kominfo Usman Kansong. Karena yang bersangkutan sendiri adalah pejabat yang ditunjuk Menteri Kominfo RI Johnny Plate dan MenkumHAM Yasonna Laoly untuk membacakan langsung  tanggapan Presiden selaku Pemerintah pada sidang di MK beberapa waktu lalu. 


Bagaimana mungkin lembaga fasilitator menjadi eksekutor pelaksana UKW bagi wartawan. Seharusnya UKW atau SKW itu kewenangan organisasi pers dan lembaga pelaksana uji kompetensi wajib berlisensi BNSP. Profesi wartawan harus tunduk pada UU Ketenagakerjaan. 


Sebagai contoh Kepolisian Republik Indonesia atau Polri dan Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK adalah lembaga yang memiliki Undang-Undang khusus namun tetap taat pada ketentuan perundangan-undangan mengenai sertifikasi profesi adalah kewenangan BNSP sesuai UU Ketenagakerjaan. Makanya Polri dan KPK telah mendirikan LSP Polri dan LSP KPK. 


Organisasi Pengacara pun ternyata sudah mendirikan LSP melalui BNSP yakni LSP Pengacara Indonesia. Dan organisasi Kedokteran juga sedang melakukan harmonisasi dengan BNSP dalam rangka pelaksanaan sertifikasi profesi kedokteran. 


Untuk itulah Serikat Pers Republik Indonesia mendirikan LSP Pers Indonesia kemudian mendapatkan Lisensi dari BNSP dalam rangka pelaskanaan sertifikasi kompetensi bagi pers Indonesia. 


Dengan demikian insan pers berhak menentukan pilihan apakah akan mengikuti pelaksanaan SKW di LSP Pers Indonesia dengan legitimasi Sertifikat Lisensi dari BNSP yang sah, atau pelaksanaan UKW di Dewan Pers dengan legitimasi klaim statemen pejabat Dirjen IKP Kemenkominfo ?


Yang pasti di negara ini segala kegiatan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan maka lembaga pelaksananya wajib berlisensi atau mengantongi ijin dari pemerintah. Jika tidak maka pada prakteknya lembaga yang tidak berlisensi atau tidak memiliki ijin dari pemerintah itu akan dikategorikan melakukan kegiatan illegal. 


Pada kenyataannya pelaksanaan SKW berlisensi BNSP melalui LSP Pers Indonesia makin diakui dan terus bergulir di seluruh Indonesia kendati terus ditekan dan didiskreditkan oleh Dewan Pers. Saat ini sedang massif berlangsung di berbagai daerah dan sedang direncanakan secara serentak dilaksanakan di seluruh Indonesia. 



Penulis : 

Heintje G. Mandagie

Ketua LSP Pers Indonesia

TANAH DATAR - MEDIAPORTALANDA -  Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-114 Kodim 0307/TD, di Jorong pasa senayan Nagari Batu bulek, Kecamatan Lintau buo Utara, Kabupaten Tanah datar, Senin(15/8/2022).


Selama sebulan penuh mereka tinggal di rumah–rumah milik warga dan sekaligus mencari ibu angkat. Warga yang mendapatkan kesempatan tersebut merasa senang dan bahagia. Karena setiap hari warga bisa bercengkrama dengan para prajurit dan selama sebulan hidup dan tinggal bersama para prajurit TNI.


Hari-hari sebelumnya Jorong pasa senayan  ini yang biasanya sepi. Sekarang berubah menjadi ramai, penuh tawa dan canda. Bahkan, saat sore tiba, prajurit Satgas sepulang dari lokasi TMMD pun menyempatkan diri membantu memasak ibu-ibu di dapur.


“Rasanya kaget dan bangga untuk pak tentara, mau membantu memasak dan ternyata mereka bisa memasak loh, kesukaannya memasak menu lalapan dan memasak ayam sambal lado,” puji Ibu Ferawati.


Salah satu anggota satgas TMMD, Kopda Kiki dari Denzipur 2/PS yang tergabung Satgas TMMD mengatakan selain mengerjakan pekerjaan fisik (pembangunan sasaran fisik). prajurit selesai bekerja keras seharian dilapangan langsung kerumah ibu angkat untuk membantu menyiapkan menu memasak. Dan selesai memasak langsung makan bersama.Fungkasnya.

Disamping itu lbu Ferawati cukup senang prajurit satgas TMMD yang tinggal dirumahnya juga pintar bantu memasak didapur selain kegiatan fisik, Ungkapnya.(**).

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.